Ae. R


Sabtu, 09 Juli 2011

Malam Jaya Giri

ku tulis bait puisi 
dari dahan pinus bukit Jaya Giri
dari dingin kabut kota Lembang
dari  harum pohon teh Sukawana

antrian panjang masa depan
berbaris menuju perbukitan
berbenah mencari parkiran
ada juga yang linglung cari alamat tujuan

tertutup kabut jalan setapak
terhenti kaki membuat jejak
terlena fana yang senyum dalam sajak
terpuruklah sudah di dalam pekat dan sesak

apa yang kan di banggakan
dari keharuman yang terpuruk
bagaimana bisa mengantar sunyi
sementara alamat hilang di tempat

menyulam malam dengan kehangatan
mencumbu bayang dalam temaram
lantunkan tembang bunga mayang
mengatri harapan menuju lingkaran




Abdie, Jaya Giri,2003



tua renta

tua renta di ruang sidang
berkilah tentang kebenaran
ayat - ayat dijadikan pedang
cabik keadilan teriakan asma

inikah kebenaran?
nyata murka dianggap mulia
binasa memusuhi sesama

kasihan kamu,
tua tetapi sangat renta
usiamu hanya hitungan angka percuma
tidak menjadikanmu manusia

hanya satu kedipan mata
aku dan kamu menunggu giliran binasa
tak perlu membuat ledakan
dan teror menakutkan


Abdie,14062011

140897

terimakasihku pada hujan
yang memberiku gigil dan beku
di teras depan rumahmu

nikmat terasa,
secangkir kopi yang kau suguhkan
seolah menjadi telaga yang luas
tempat kata berenang
terjemahkan asmara
berikan kehangatan
pada gigil dan beku

bertaut kata
kenang pertemuan
kini, tanpa hujan
tanpa kopi di suguhkan
hanya semilir suguhan malam 
asmara tenggelam di telaga waktu


Abdie, Bandung97